Rabu, 07 Maret 2012

Biografi Taufik Hidayat



Magnet di Bulutangkis
 
            Taufik Hidayat lahir di Bandung, Jawa Barat, 10 Agustus 1981 adalah pemain bulutangkis tunggal putra Indonesia yang berasal dari klub Sangkuriang Graha Sarana  (SGS)  Bandung dengan tinggi badan 176 cm. Putra pasangan Aris Haris dan Enok Dartilah ini, mulai berlatih olahraga bulutangkis pada usia 7 tahun. Taufik kecil bersekolah di SD pangalengan I, lalu dia  melanjutkan bersekolah di SMP Pasundan I, dan setahun kemudian dia pindah ke SMP Taman Siswa Bandung. Pertama kali dia meraih gelar juara pada Kejuaraan Piala Aqua di Solo. Dia dapat menjadi atlet profesional seperti sekarang karena displin tinggi yang diterapkan orangtuanya sejak kecil.
            Saat umur 13 tahun dia mulai meraih gelar juara untuk pertama kalinya, yakni di kejuaraan Aqua Master. Di tahun 1996 dia menjadi yang terbaik pada Kejuaraan Piala Suryanaga di Surabaya. Lalu di bulan November, dia direkrut masuk Pelatnas Cipayung dan  ditangani oleh pelatih Mulyo Handoyono. Tahun-tahun pertama di Cipayung, dia merasa tidak nyaman karena sering diplonco seniornya. Cara penanganan Mulyo terhadap Taufik begitu tepat karena di tengah lapangan Mulyo adalah pelatih dan di luar dia bisa bertindak seperti orangtua sekaligus sahabat karib. Gelar pertama yang diraih sesudah masuk Pelatnas adalah Kampiun di Kejuaraan Asia Junior tahun 1997, dia juga memenangkan turnamen Jerman Terbuka Junior. Taufik sukses memetik gelar pertamanya di kancah seri Grand Prix IBF setelah menjuarai turnamen Brunei Darussalam Terbuka. Di tahun 1999 dia memenangi gelar Indonesia Terbuka. Di tahun 2002, gelar Taiwan Terbuka, Asian Games XIV, dan Indonesia Terbuka berhasil diraih.
            Di tahun 2000, pencapaian yang diukirnya makin banyak yaitu memenangkan Indonesia Terbuka, Malaysia Terbuka, dan Kejuaraan Asia JVC. Kisah sukses berlanjut di tahun 2002, sukses itu pun terasa manis karena karena setelah memenangi Kejuaraan Indonesia Terbuka, selang bulan Taufik langsung meraih emas Asian Games XIV. Turnamen Indonesia Terbuka ternyata memiliki daya tarik tersendiri untuknya karena dia memilki ambisi besar untuk mengejar rekor Ardy B. Wiranata yang telah enam kali menjadi juara.
            Tahun 2000 merupakan debut Taufik dalam Kejuaraan Piala Thomas, dia merupakan pemain paling muda yang berusia 19 tahun. Taufik menampilkan permainan yang begitu cemerlang dan sempurna, sehingga mengundang decak kagum. Meskipun menjadi penentu kemenangan, Taufik tidak mau di sebut sebagai pahlawan karena menurutnya kemenangan ini diraih karena kekompakan dan kebersamaan seluruh pemain, pelatih, dan ofisial.
            Taufik juga tidak luput dari cerita pahit karena kalah dan tersingkir merupakan kosa kata yang akrab dalam dirinya. Dalam usia 17 tahun, dia sukses masuk final turnamen bergengsi All England. Meskipun gagal meraih juara, penampilan Taufik yang dingin, tenang, dan nyaris tanpa ekspresi mengundang decak kagum. Dia pemain termuda sepanjang sejarah 100 tahun penyelenggaraan All England yang mampu bertanding di partai puncak. Dua kali taufik  masuk final namun tetap mengalami kegagalan meraih gelar All England, dia sangat  menyesali kegagalan ini akibat dari mentalnya belum stabil dan tegang menjalani tugas yang sedemikian berat. Dari kegagalan itu dia bertekat harus belajar membenahi mentalnya. Taufik  yang ketika itu sebagai pemain yang menduduki peringkat pertama IBF yang diharapkan berjaya justru main buruk, sehingga harus mengalami kegagalan di Olimpiade Sydney 2000.
            Bolehlah pemain berusaha, namun terkadang takdir menetukan lain, hal ini dialami Taufik ketika berlaga pada Kejuaraan Dunia 2001 di Spanyol. Dia mengalami cidera hamstring paha kanan yang mengakibatkan dia terpaksa untuk tidak meneruskan pertandingan dan memberikan kemenangan bagi lawannya. Dia keluar lapangan dengan air matanya yang terus berderai karena gagal menjadi juara, padahal dia ingin mempersembahkan kemenangan tersebut kepada sang pelatih, Mulyo Handoyo yang kontraknya akan habis.
            Dikalangan bulutangkis nasional, Taufik memang terkenal kritis, berani, dan lantang bicara apa adanya, bahkan cenderung emosional. Ketua Umum PB PBSI, Subagyo Hadisiswoyo pernah dikritik di muka umum oleh Taufik, pernyataan Taufik tersebut membuatnya di jatuhi skorsing, sehingga tidak dikirim ke pertandingan Korea Terbuka dan Final Grand Prix di Brunei Darussalam 2001 oleh PBSI. Mengenai kasus tersebut, dia menyatakan kepada pers akan intropeksi diri dan tidak akan surut untuk megkritik hal-hal yang salah di pelatnas.
            Taufik memutuskan untuk mengundurkan diri dari Pelatnas Cipayung pada bulan Oktober 2001, sebulan berikutnya Taufik memutuskan untuk memperkuat Singapura. Taufik kembali ke pelatnas atas kesepakatan dengan pihak PBSI di Jakarta, Senin 11 Maret 2002 untuk persiapan ke Piala Thomas dan diikutkan dalam pertandingan Korea Terbuka dan Jepang Terbuka.
            Gosip dan kedekatan dengan sejumlah wanita rupanya tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Taufik, dia dianugrahi wajah tampan, prestasi yang baik, dan memiliki banyak kenalan gadis-gadis. Kini setelah sukses, Taufik kerap berganti-ganti mobil mewah, mendirikan perusahaan kontraktor bersama rekannya, memilki rumah mewah, dua tanah yang cukup luas, dapat membiayai ibadah haji kedua orangtua, dan membantu biaya pendidikan sang adik. Kunci sukses Taufik adalah latihan keras untuk menjadi juara, sehingga uang banyak dan materi berlimpah tidak mustahil bisa diperoleh. Dia juga senang dengan kehidupan malam, dugem bukanlah suatu hal yang asing baginya namun sebagai atlet profesional, dia cukup dewasa dalam menentukan sikap dan bertanggungjawab atas profesinya. Taufik memiliki hobi bermain sepakbola dan biliar, dengan hobinya tersebut dia memperoleh manfaat besar. Menyalurkan hobi baginya merupakan sarana membuang jenuh, memperluas pergaulan, dan menambah wawasan. Taufik memiliki kepribadian yang sangat luwes, memilki karisma, easy going, dan loyal terhadap teman-temannya. Taufik berharap Bangsa Indonesia dapat lebih menghargai seorang atlet profesional sebagai aset bangsa ini yang memilki nilai tinggi.
           
Sumber buku
Penyusun                     : Broto Happy W dan Erly Bahtiar
Penerbit                       : Bhakti Gemilang
Cetakan                       : I Jakarta 2003


Tidak ada komentar:

Posting Komentar