Minggu, 04 Maret 2012

Rangkuman Jurnal


Amanda D.J (20210593)
Sartika (26210394)

IS ASEAN STILL RELEVANT IN THE ERA OF THE ASEAN-CHINA FTA?
Tulus Tambunan
Tahun 2005

Sejak awal 1990-an, pertumbuhan China meningkat sangat pesat dengan nilai rata-rata 10% per tahun. Bahkan saat krisis keuangan  melanda Asia tahun 1997-1998, China tidak terpengaruh. Sebaliknya, ekonomi China terus tumbuh sekitar 7% per tahun. Dalam dua dekade terakhir total perdagangan negara-negara ASEAN juga mengalami peningkatan sebesar dua kali lipat. Walaupun sempat mengalami penurunan selama krisis 1997/1998, total perdagangan 6 negara di ASEAN (Indonesia, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina dan Brunei Darussalam) dapat kembali meningkat sampai mencapai titik puncak pada tahun 2000 ketika total ekspor dan impor senilai US $ 408 miliar dan US $ 350 miliar. Perekonomian Indonesia pun mulai tumbuh sejak tahun 2000, tetapi masih sangat lambat.
Pada tahun 2003, nilai perdagangan extra-trade 8 negara di Asean (Indonesia, Thailand, Singapura, Malaysia, Filipina, Brunei Darussalam, Myanmar, dan Kamboja) mencapai lebih dari 600 miliar dolar AS, sementara nilai intra-trade kurang dari 200 miliar dolar AS. Hal ini menunjukkan bahwa kecenderungan perkembangan extra-trade dan intra-trade 8 negara ASEAN memiliki kesenjangan yang sangat jelas.

Grafik diatas menunjukkan perkembangan jangka panjang extra-trade dan intra-trade 8 negara ASEAN lebih rinci dari nilai ekspor dan impor. Ternyata rata-rata pertumbuhan extra-trade jauh lebih tinggi daripada intra-trade. Lebih menariknya lagi, hal itu menunjukkan bahwa sejak krisis 1997/1998, ASEAN sebenarnya telah memperoleh surplus perdagangan ekstra-dan itu jauh lebih besar dari surplus perdagangan intra-nya. 
Lalu mengapa negara anggota ASEAN mengekspor lebih banyak daripada menjual di negara mereka sendiri? Mungkin jawabannya adalah seperti apa yang Langhammer dan Hiemenz (1990) nyatakan bahwa integrasi regional antara negara berkembang sering gagal untuk mewujudkan harapan, sebagian karena ada sedikit ruang baik untuk spesialisasi antar-industri atau intra-industri di antara negara anggota, karena mereka cenderung memiliki keunggulan komparatif dalam produk yang sama.
Maka tidak diragukan lagi, ASEAN akan menghadapi tantangan serta peluang akibat perjanjian C-AFTA. Dari sisi ekspor ASEAN, China salah satu negara yang memiliki peningkatan pendapatan per kapita dan merupakan peluang pasar yang besar untuk ASEAN. Dari sisi impor ASEAN, tantangan serius yang dihadapi negara-negara ASEAN adalah persaingan antar produk dalam negeri dengan produk Impor China.  “Ancaman China” untuk ASEAN mungkin akan segera datang dan parah dalam produk padat karya mengingat China memiliki keunggulan komparatif yang kuat. Maka sebaiknya negara-negara anggota ASEAN mempersiapkan diri untuk menghadapi “ancaman China” tersebut dengan cara mengurangi impor, memperbanyak ekspor dan meningkatkan konsumsi produk dalam negeri.





Post Global Financial Crisis International Business Strategies
International Review of Business Research Papers Volume 6. Number 4. September 2010. Pp. 324 – 336

            Krisis global keuangan yang terjadi mengakibatkan terjadinya resesi, baik resesi yang dalam, resesi dangkal atau tidak ada resesi sama sekali. Resesi yang dialami oleh negara di bagi 3 yaitu resesi dalam, resesi dangkal, dan negara yang tidak mengalami resesi sama sekali maka dalam penentuan strategi harus disesuaikan dengan tingkat resesi. Khususnya untuk negara yang mengalami resesi dalam maka mengakibatkan mengurangi tingkat internasionalisasi sehingga melalakukan strategi dengan  berfokus internasionalisasi perilaku dari bisnis internasional dengan negara yang mengalami resesi dangkal, dan memulai tingkat yang lebih besar akuisisi sebagai bagian dari strategi internasional dari perusahaan-perusahaan dengan pasar negara yang tidak mengalami resesi sama sekali Potensi kompetisi internasional dapat dijadikan peluang potensial  untuk meningkatkan pangsa pasar global. Dalam menghadapi krisis keuangan diperlukan strategi internasional yang dipengaruhi kekuatan pasar negara yang bersangkutan, kebijakan pemerintah dengan perilaku proteksionis terhadap asing, internasional nilai tukar dan tingkat variasi lokal dari persaingan.
Dalam menentukan strategi bisnis internasional dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang sedang terjadi, meskipun ada beberapa pandangan yang menyatakan sumber daya perusahaan adalah factor yang paling signifikan. Krisis globalisasi keuangan mengakibatkan terjadinya pengidentifikasi dan penanganan perilaku strategi yang berbeda pada perusahaan internasional. Hal itu terdominasi pada keadaan baik resesi yang dalam, resesi dangkal atau tidak ada resesi sama sekali. Berdasarkan pengamatan dari bisnis internasional maka disarankan perlunya penentu strategi internasional selama dan pasca terjadinya krisis keuangan globalisasi. Strategi tersebut harus mengutamakan kekuatan pasar negara sendiri, pasar pemerintah dengan perilaku proteksionis asing, internasional nilai tukar, dan tingkat variasi lokal dari persaingan.
Peneliti menetapkan bahwa terjadinya perubahan strategi internasional dalam bisnis internasional pasca terjadinya krisis keuangan internasional. Strategi yang dilakukan harus disesuaikan dengan  luasnya pangsa pasar dan tingkat resesi akibat dari krisis keuangan global yang dialami negara bersangkutan. Dua factor utama untuk menentukan strategi internasional pada saat krisis keuangan yaitu kondisi pasar negara yang bersangkutan dan tingkat perlindungan industri dalam negeri yang diperkenalkan oleh pemerintah negara asing sebagai respons terhadap krisis ekonomi. Faktor-faktor lain termasuk variabilitas nilai tukar relatif juga dipengaruhi strategi internasional selama krisis keuangan. 

Tugas Teori Ekonomi 2 Dr Prihantoro




Tidak ada komentar:

Posting Komentar